Saturday, May 14, 2011

Kenali Sifat-Sifat DAJJAL

بسم الله الرحمن الرحيم


Penulis: Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak
Keluarnya Dajjal merupakan satu perkara yang pasti. Dajjal akan berusaha menyesatkan manusia dari jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga orang yang beriman semestinya mengetahui sifat serta fitnah-fitnah Dajjal agar terhindar dari kesesatannya.
Al-Imam Al-Qurthubi rahimahullahu menerangkan: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyifati Dajjal dengan penjelasan yang gamblang bagi orang yang punya hati. Sifat-sifat tersebut semuanya jelek, yang nampak jelas bagi orang yang mempunyai indera yang sehat. Namun orang yang Allah Subhanahu wa Ta’ala tetapkan akan celaka tetap mengikuti Dajjal dalam pengakuannya yang dusta dan dungu, serta diharamkan untuk mengikuti al-haq….”
Apakah Dajjal itu Manusia?
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullahu berkata: “Ya. Dajjal adalah manusia dari bani Adam. Sebagian para ulama menyatakan Dajjal adalah setan. Sebagian lagi menyatakan bapaknya manusia, ibunya dari bangsa jin. Tapi semua pendapat ini tidaklah benar. Karena dia butuh makan, minum, dan lainnya. Oleh karena itu, Nabi ‘Isa ‘alaihissalam membunuhnya dengan cara membunuh manusia biasa.” (Asy-Syarhul Mumti’ 3/275)
Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullahu berkata: “Hadits-hadits ini adalah hujjah bagi Ahlus Sunnah akan benarnya keberadaan Dajjal, bahwa Dajjal adalah satu sosok tubuh yang merupakan ujian dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berikan dia kemampuan melakukan beberapa hal, seperti menghidupkan orang mati yang ia bunuh, memunculkan kesuburan, membawa sungai, surga dan neraka, perbendaharaan bumi mengikuti dirinya, memerintahkan langit untuk hujan maka turunlah hujan, memerintahkan bumi untuk menumbuhkan maka tumbuhlah tanaman-tanaman. Itu semua terjadi dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setelah itu, ia tak mampu melakukannya, tidak mampu membunuh seorang laki-laki (yang sebelumnya dibunuh kemudian dihidupkan kembali olehnya) ataupun lainnya….”
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “(Yang benar) Dajjal adalah manusia. Fitnahnya lebih besar dari (sekedar) fitnah Eropa sebagaimana banyak diterangkan dalam banyak hadits.” (Ash-Shahihah, 3/191)
Dakwah Dajjal
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullahu mengatakan: “Telah disebutkan, awal mula ia keluar menyeru kepada Islam, mengaku sebagai muslim. Kemudian mengaku sebagai nabi, setelah itu mengaku sebagai ilah.” (Asy-Syarhul Mumti’ 3/268, lihat Qishshatu Dajjal wa Nuzul ‘Isa karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu)
Sifat-sifat dan Bentuk Fisiknya
1. Seorang pemuda yang berambut keriting dan kusut masai.
Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
إِنَّهُ شَابٌّ قَطَطٌ عَيْنُهُ طَافِئَةٌ كَأَنِّي أُشَبِّهُهُ بِعَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قَطَنٍ
“Dia adalah seorang pemuda yang sangat keriting rambutnya, hilang cahaya matanya, seakan-akan aku menyerupakannya dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan.” (HR. Muslim: 2937)
Dalam riwayat lain: “Rambutnya kusut.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
إِنَّ مِنْ بَعْدِكُمُ الْكَذَّابَ الْمُضِلَّ وَإِنَّ رَأْسَهُ مِنْ بَعْدِهِ حُبُكٌ حُبُكٌ حُبُكٌ -ثَلاَثَ مَرَّاتٍ- وَإِنَّهُ سَيَقُوْلُ: أَنَا رَبُّكُمْ؛ فَمَنْ قَالَ: لَسْتَ رَبَّنَا لَكِنَّ رَبَّنَا اللهُ عَلَيْهِ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْهِ أَنَبْنَا نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرِّكَ؛ لَمْ يَكُنْ لَهُ عَلَيْهِ سُلْطَانٌ
“Nanti akan ada pendusta yang menyesatkan, rambut di belakangnya hubukun (keriting seperti terjalin/dipintal) –beliau ucapkan tiga kali–. Dia akan berkata: ‘Aku adalah Rabb kalian’. Barangsiapa yang berkata: ‘Engkau bukan Rabb kami. Rabb kami adalah Allah, kepada-Nyalah kami bertawakal dan kepada-Nyalah kami kembali. Kami berlindung kepada Allah dari kejahatanmu’, niscaya Dajjal tak mampu mengalahkannya.” (Ash-Shahihah no. 2808)
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Hadits ini merupakan dalil yang tegas bahwa Dajjal akbar (terbesar) adalah manusia yang punya kepala dan rambut. Bukan sesuatu yang maknawi atau kiasan dari kerusakan, sebagaimana ucapan orang-orang yang lemah imannya….” (Silsilah Ahadits Shahihah, 6/2, pada penjelasan hadits no. 2808)
2. Matanya
Dia adalah seorang yang buta sebelah, sedangkan Rabb kalian tidaklah demikian. Masalah ini diriwayatkan dalam hadits yang mutawatir, diriwayatkan oleh lebih dari sepuluh orang sahabat. Di antaranya:
- Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma:
قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي النَّاسِ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ ذَكَرَ الدَّجَّالَ فَقَالَ: إِنِّي أُنْذِرُكُمُوْهُ وَمَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ قَدْ أَنْذَرَهُ قَوْمَهُ، لَقَدْ أَنْذَرَهُ نُوْحٌ قَوْمَهُ وَلَكِنْ سَأَقُوْلُ لَكُمْ فِيْهِ قَوْلاً لَمْ يَقُلْهُ نَبِيٌّ لِقَوْمِهِ، تَعْلَمُوْنَ أَنَّهُ أَعْوَرُ وَأَنَّ اللهَ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
Rasulullah berdiri di hadapan manusia, menyanjung Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sanjungan yang merupakan hak-Nya, kemudian menyebut Dajjal dan berkata: “Aku memperingatkan kalian darinya, tidaklah ada seorang nabi kecuali pasti akan memperingatkan kaumnya tentang Dajjal. Nuh ‘alaihissalam telah memperingatkan kaumnya. Akan tetapi aku akan sampaikan kepada kalian satu ucapan yang belum disampaikan para nabi kepada kaumnya. Ketahuilah dia itu buta sebelah, adapun Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah demikian.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari, Muslim no. 2930)
- Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
إِنَّ الْمَسِيْحَ الدَّجَّالَ أَعْوَرُ عَيْنِ الْيُمْنَى كَأَنَّ عَيْنَهُ عِنَبَةٌ طَافِيَةٌ
“Sesungguhnya Dajjal buta matanya yang kanan, matanya seperti anggur yang menonjol.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2932)
- Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
أَلاَ أُحَدِّثُكُمْ حَدِيْثًا عَنْ الدَّجَّالِ مَا حَدَّثَ بِهِ نَبِيٌّ قَوْمَهُ؛ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّهُ يَجِيْءُ مَعَهُ بِمِثَالِ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَالَّتِي يَقُوْلُ إِنَّهَا الْجَنَّةُ هِيَ النَّارُ وَإِنِّي أُنْذِرُكُمْ كَمَا أَنْذَرَ بِهِ نُوْحٌ قَوْمَهُ
“Maukah aku sampaikan kepada kalian tentang Dajjal yang telah disampaikan oleh seorang nabi kepada kaumnya? Dia buta sebelah, membawa sesuatu seperti surga dan neraka. Yang dia katakan surga pada hakikatnya adalah neraka, aku peringatkan kepada kalian sebagaimana Nabi Nuh ‘alaihissalam memperingatkan kaumnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2936)
Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
هُوَ أَعْوَرُ هِجَانٌ كَأَنَّ رَأْسَهُ أَصَلَةٌ، أَشْبَهُ رِجَالِكُمْ بِهِ عَبْدُ الْعُزَّى بْنُ قَطَنٍ فَإِمَّا هَلَكَ الْهُلَّكُ فَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ
“Dajjal matanya buta sebelah, kulitnya putih.” (Dalam satu riwayat): “Kulitnya putih seperti keledai putih. Kepalanya kecil dan banyak gerak, mirip dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan. Jika ada orang-orang yang binasa (mengikuti fitnahnya), ketahuilah Rabb kalian tidaklah buta sebelah.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban, Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: Sanadnya shahih menurut syarat Muslim, Ash-Shahihah, no. 1193)
Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: “Hadits ini menunjukkan Dajjal akbar adalah manusia yang mempunyai sifat seperti manusia. Apalagi Rasulullah menyerupakannya dengan Abdul ‘Uzza bin Qathan, seorang shahabat. Hadits ini satu dari sekian banyak dalil yang membatilkan takwil sebagian orang yang menyatakan Dajjal bukanlah sosok fisik, tapi rumuz (simbol) kemajuan Eropa berikut kemegahan serta fitnahnya. (Yang haq) Dajjal adalah manusia, fitnahnya lebih besar dari fitnah Eropa sebagaimana banyak diterangkan dalam banyak hadits.” (Ash-Shahihah, 3/191)
Tulisan di antara Kedua Matanya
Tertulis di antara kedua matanya ك ف ر yang bisa dibaca oleh mukmin yang bisa baca tulis ataupun tidak. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلاَّ وَقَدْ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ اْلأَعْوَرَ الْكَذَّابَ أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَمَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ك ف ر
“Tidak ada seorang nabi pun kecuali memperingatkan umatnya dari Dajjal. Dia buta, pendusta. Ketahuilah dia buta, adapun Rabb kalian tidaklah demikian. Tertulis di antara dua mata Dajjal :ك ف ر -yakni: kafir.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim no. 2933)
Dari ‘Umar bin Tsabit Al-Anshari rahimahullah, beliau mendapatkan berita dari sebagian shahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya pada suatu hari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata memperingatkan manusia dari Dajjal:
إِنَّهُ مَكْتُوْبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ كَافِرٌ يَقْرَؤُهُ مَنْ كَرِهَ عَمَلَهُ أَوْ يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ
“Sesungguhnya tertulis di antara dua matanya ك ف ر, akan bisa membacanya orang yang membenci amalannya -atau akan membacanya semua mukmin.” (HR. Muslim)
Dalam satu riwayat dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu:
يَقْرَؤُهُ كُلُّ مُؤْمِنٍ كَاتِبٍ وَغَيْرِ كَاتِبٍ
“Akan bisa membacanya semua mukmin yang bisa menulis ataupun tidak.” (HR. Muslim, 2934/105)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu berkata: “Yang benar dan ini adalah ucapan para ulama muhaqqiqin: Tulisan (yang ada di antara kedua mata Dajjal, -pen.) adalah hakiki adanya sesuai dzahirnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala jadikan sebagai tanda di antara sekian tanda kekufuran, kedustaan, dan kebatilannya. Allah Subhanahu wa Ta’ala tampakkan kepada seluruh mukmin yang bisa baca tulis ataupun tidak, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sembunyikan (tanda tersebut) dari orang yang diinginkan kesesatannya dan terkena fitnahnya.” (Syarh Muslim, 9/294)
Pengikut Dajjal
Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
يَتْبَعُ الدَّجَّالَ مِنْ يَهُوْدِ أَصْبَهَانَ سَبْعُوْنَ أَلْفًا عَلَيْهِمْ الطَّيَالِسَةُ
“Akan mengikuti Dajjal dari kaum Yahudi Ashbahan (sebuah kota di Iran) 70.000 orang, (tanda) mereka memakai thayalisah (sejenis kain yang dipakai di pundak).” (HR. Muslim no. 2944)
Pengikut Dajjal adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang yang jahat. Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أَبْكِي، فَقَالَ لِي: مَا يُبْكِيْكِ؟ قُلْتُ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَكَرْتُ الدَّجَّالَ فَبَكَيْتُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ وَأَنَا حَيٌّ كَفَيْتُكُمُوْهُ، وَإِنْ يَخْرُجِ الدَّجَّالُ بَعْدِي فَإِنَّ رَبَّكُمْ عَزَّ وَجَلَّ لَيْسَ بِأَعْوَرَ وَإِنَّهُ يَخْرُجُ فِي يَهُوْدِيَّةِ أَصْبَهَانَ حَتَّى يَأْتِيَ الْمَدِيْنَةَ فَيَنْزِلَ نَاحِيَتَهَا وَلَهَا يَوْمَئِذٍ سَبْعَةُ أَبْوَابٍ عَلَى كُلِّ نَقْبٍ مِنْهَا مَلَكَانِ، فَيَخْرُجَ إِلَيْهِ شِرَارُ أَهْلِهَا
“Rasulullah masuk ke kamarku dalam keadaan aku sedang menangis. Beliau berkata kepadaku: ‘Apa yang membuatmu menangis?’ Aku menjawab: ‘Saya mengingat perkara Dajjal maka aku pun menangis.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: ‘Jika dia keluar sedang aku masih berada di antara kalian niscaya aku akan mencukupi (melindungi) kalian. Jika dia keluar setelah aku mati maka ketahuilah Rabb kalian tidak buta sebelah. Dajjal keluar bersama orang-orang Yahudi Ashbahan hingga datang ke Madinah dan berhenti di salah satu sudut Madinah. Madinah ketika itu memiliki tujuh pintu, setiap celahnya ada dua malaikat yang berjaga. Maka keluarlah orang-orang jahat dari Madinah mendatangi Dajjal ….” (HR. Ahmad, Abdullah bin Ahmad, Ibnu Hibban. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: Sanadnya shahih)
Dalam sebuah hadits disebutkan juga bahwa Dajjal akan muncul di tengah-tengah pasukan Khawarij.
يَنْشَأُ نَشْءٌ يَقْرَؤُوْنَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، كُلَّمَا خَرَجَ قَرْنٌ قُطِعَ حَتَّى خَرَجَ فِي عِرَاضِهِمُ الدَّجَّالُ
“Akan muncul sekelompok pemuda yang (pandai) membaca Al-Qur`an tapi tidak melewati tenggorokan mereka. Setiap kali keluar sekelompok mereka, maka akan tertumpas sehingga muncul Dajjal di tengah-tengah mereka.” (HR. Ibnu Majah no. 174, lihat Ash-Shahihah no. 2455)
Macam-macam Fitnahnya
Fitnah yang dilakukan Dajjal banyak sekali, di antaranya:
1. Bersamanya ada surganya dan nerakanya.
Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
الدَّجَّالُ أَعْوَرُ الْعَيْنِ الْيُسْرَى جُفَالُ الشَّعْرِ مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ فَنَارُهُ جَنَّةٌ وَجَنَّتُهُ نَارٌ
“Dajjal cacat matanya yang kiri1, keriting rambutnya, bersamanya surga dan nerakanya. Nerakanya adalah surga dan surganya adalah neraka.” (HR. Muslim, no. 2934)
2. Membunuh satu jiwa kemudian menghidupkannya kembali.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
فَيَخْرُجُ إِلَيْهِ يَوْمَئِذٍ رَجُلٌ هُوَ خَيْرُ النَّاسِ أَوْ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ فَيَقُوْلُ لَهُ: أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِي حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيْثَهُ. فَيَقُوْلُ الدَّجَّالُ: أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا ثُمَّ أَحْيَيْتُهُ أَتَشُكُّوْنَ فِي اْلأَمْرِ؟ فَيَقُوْلُوْنَ: لاَ. قَالَ: فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيْهِ…
“Keluarlah pada hari itu seorang yang terbaik atau di antara orang terbaik. Dia berkata: ‘Aku bersaksi engkau adalah Dajjal yang telah disampaikan kepada kami oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Dajjal berkata (kepada pengikutnya): ‘Apa pendapat kalian jika aku bunuh dia dan aku hidupkan kembali apakah kalian masih ragu kepadaku?’ Mereka berkata: ‘Tidak.’ Maka Dajjal membunuhnya dan menghidupkannya kembali….” (HR. Muslim no. 2938)
3. Menggergaji seseorang kemudian membangkitkannya kembali. (HR. Muslim, 2938/113)
4. Memerintahkan langit untuk menurunkan hujan lalu turunlah hujan.
Dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
فَيَأْتِي عَلَى الْقَوْمِ فَيَدْعُوْهُمْ فَيُؤْمِنُوْنَ بِهِ وَيَسْتَجِيْبُوْنَ لَهُ فَيَأْمُرُ السَّمَاءَ فَتُمْطِرُ وَاْلأَرْضَ فَتُنْبِتُ
“…Dia datang kepada satu kaum mendakwahi mereka. Merekapun beriman kepadanya, menerima dakwahnya. Maka Dajjal memerintahkan langit untuk hujan dan memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman, maka turunlah hujan dan tumbuhlah tanaman….” (HR. Muslim no. 2937)
Adapun kaum yang tidak beriman dan tidak menerima dakwah Dajjal, tidak ada sedikit harta pun tersisa pada mereka.
5. Akan diikuti perbendaharaan harta.
Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu disebutkan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
وَيَمُرُّ بِالْخَرِبَةِ فَيَقُوْلُ لَهَا: أَخْرِجِي كُنُوْزَكِ. فَتَتْبَعُهُ كُنُوْزُهَا كَيَعَاسِيْبِ النَّحْلِ
“…Dia mendatangi reruntuhan dan berkata: ‘Keluarkanlah perbendaharaanmu.’ Maka keluarlah perbendaharaannya mengikuti Dajjal seperti sekelompok lebah.” (HR. Muslim no. 2937)
6. Bersamanya air, sungai, dan gunung roti, api, dan air.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَإِنَّهُ مَعَهُ جَنَّةٌ وَنَارٌ وَنَهْرٌ وَمَاءٌ وَجَبَلُ خُبْزٍ وَإِنَّ جَنَّتَهُ نَارٌ وَنَارَهُ جَنَّةٌ
“…Sesungguhnya bersama dia ada surga dan nerakanya, sungai dan air, serta gunung roti. Sesungguhnya surganya Dajjal adalah neraka dan nerakanya Dajjal adalah surga.” (HR. Ahmad. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: sanadnya shahih. Lihat Qishshatu Masihid Dajjal)
Dari ‘Uqbah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata tentang Dajjal:
إِنَّ الدَّجَّالَ يَخْرُجُ وَإِنَّ مَعَهُ مَاءً وَنَارًا فَأَمَّا الَّذِي يَرَاهُ النَّاسُ مَاءً فَنَارٌ تُحْرِقُ وَأَمَّا الَّذِي يَرَاهُ النَّاسُ نَارًا فَمَاءٌ بَارِدٌ عَذْبٌ، فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَلْيَقَعْ فِي الَّذِي يَرَاهُ نَارًا فَإِنَّهُ مَاءٌ عَذْبٌ طَيِّبٌ
“Sungguh Dajjal akan keluar dan bersamanya ada air dan api. Apa yang dilihat manusia air sebenarnya adalah api yang membakar. Apa yang dilihat manusia api sesungguhnya adalah air minum dingin yang segar. Barangsiapa di antara kalian yang mendapatinya hendaknya memilih yang dilihatnya api, karena itu adalah air segar yang baik.” (HR. Muslim no. 2935)
Jika seorang mukmin telah mengetahui dan beriman akan keluarnya Dajjal dengan membawa fitnah yang demikian dahsyat, hendaknya ia mengamalkan beberapa sebab untuk menjaga dirinya dari Dajjal dan fitnahnya. Di antara amalan tersebut:
1. Minta perlindungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejelekan fitnahnya, memperbanyak minta perlindungan darinya terutama setelah tasyahud akhir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُوْلُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيْحِ الدَّجَّالِ
“Jika salah seorang kalian selesai dari tasyahud akhir mintalah perlindungan dari empat perkara: ‘Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari adzab jahannam, dari adzab kubur, dari fitnah waktu hidup dan waktu mati, dan dari kejahatan fitnah Dajjal’.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
2. Menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata:
مَنْ حَفِظَ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ أَوَّلِ سُوْرَةِ الْكَهْف عُصِمَ مِنْ الدَّجَّالِ
“Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama dari surat Al-Kahfi, akan terjaga dari fitnah Dajjal.” (HR. Muslim)
3. Menjauhinya, tidak mendatanginya kecuali seorang yang yakin tak akan terkena mudarat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَمِعَ بِالدَّجَّالِ فَلْيَنْأَ مِنْهُ فَإِنَّ الرَّجُلَ يَأْتِيْهِ وَهُوَ يَحْسِبُ أَنَّهُ مُؤْمِنٌ فَلاَ يَزَالُ بِهِ لِمَا مَعَهُ مِنْ الشُّبَهِ حَتَّى يَتَّبِعَهُ
“Barangsiapa mendengar (keluarnya) Dajjal hendaknya menjauh darinya. Demi Allah, sungguh ada seorang yang mendatanginya merasa dirinya beriman tapi kemudian mengikuti Dajjal dikarenakan syubhat-syubhat yang dilontarkan Dajjal.” (HR. Ahmad)
4. Tinggal di Makkah dan Madinah
Karena keduanya adalah negeri yang aman tak bisa dimasuki Dajjal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلاَّ سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ إِلاَّ مَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةَ لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ إِلاَّ عَلَيْهِ الْمَلاَئِكَةُ صَافِّيْنَ يَحْرُسُوْنَهَا
“Tidak ada satu negeri pun kecuali akan dimasuki Dajjal, kecuali Makkah dan Madinah. Dia tidak mendapati celah/ jalan masuk kecuali padanya ada malaikat yang berbaris menjaganya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)
Dan termasuk yang terjaga dari Dajjal juga adalah Masjidil Aqsha serta bukit Tursina (dalam riwayat Ahmad dan Ibnu Hibban sebagaimana dalam Qishshatu Masihid Dajjal)
Dari nash-nash yang kita dapatkan tentang Dajjal, kita dapatkan kesimpulan:
1. Luasnya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya, karena Dia telah membekali mereka dengan senjata yang bisa mematahkan hujjah dan fitnah Dajjal. Ini terwujud dengan penjelasan sifat-sifat yang menunjukkan kedustaannya, kaum mukmin diberi kemampuan untuk membaca apa yang tertulis di kening Dajjal yang menunjukkan kekufurannya. Juga Allah Subhanahu wa Ta’ala bimbing kita untuk menghafal sepuluh ayat pertama dalam surat Al-Kahfi sebagai tameng dari Dajjal.
2. Dajjal adalah sosok manusia yang telah sangat jelas sifat-sifatnya sebagai manusia. Ini membantah ucapan orang sesat dan ahlul bid’ah yang menyatakan Dajjal hanyalah sosok fiktif belaka atau hanyalah simbol dari tersebarnya kerusakan.
3. Dajjal mempunyai sifat dan fitnah-fitnah yang telah digambarkan dengan rinci: keluarnya di akhir jaman, muncul dari arah Syam, tinggal selama 40 hari, diberi kemampuan mematikan dan menghidupkan, membawa surga dan neraka, tertulis di antara dua matanya ك ف ر, dan sifat lainnya. Ini membantah ucapan yang menyatakan bahwa Dajjal adalah Sri Sathya Sai Baba dari India, atau kiasan dari kemajuan serta fitnah Eropa.
Wa akhiru da’wana anil hamdulillahi Rabbbil ‘alamin.
1 Dalam hal ini terdapat perbedaan riwayat, sebagian menyatakan yang kiri dan sebagaian menyatakan yang kanan. Sebagian ulama mengkompromikan riwayat-riwayat tersebut dengan mengatakan bahwa mata yang kanan terhapus dan tidak bercahaya, sedangkan pada mata yang kiri terdapat sepotong daging yang menonjo

Sunday, March 27, 2011

Beristighfarlah...

"Daripada Abu Sa'id Al-Khudri r.a katanya: "Aku mendengar Rasulullahi s.a.w bersabda yang bermaksud: 'iblis berkata kepada Tuhannya; "demi keperkasaan -Mu dan keagungan-Mu, akan ku selalu menyesatkan anak keturunan Adam selama mana roh masih beradadi dalam jasad mereka." Allah menjawab;'Demi keperkasaan-Ku dan keagungan-Ku, akan Ku selalu mengampuni mereka selagi mereka meminta ampun kepada Ku'."


wahai temanku sekelian!
melihat akan hadis qudsi di atas, Allah s.w.t sentiasa memberi peluang kepada makhluknya yang bergelar hamba untuk sentiasa kembali dan memohon keampunan walau bagaimana keadaan sekalipun, kerana kelemahan dan kekurangan yang ada pada diri hamba itu beserta hasutan syaitan dan dorongan hawa nafsu, telah menjebakkan dirinya kearah kemurkaan Allah.

Tetapi bila melihat kepada maksud hadis di atas peluang yang diberi oleh Allah dengan sumpahnya. Masih  ada peluang dan kesempatan bagi mereka yang melampau serta melakukan dosa untuk mohon keampunan dengan memperbanyakkan Istighfar dalam apa jua keadaan sekalipun sehingga sampai waktunya bertepatan dengan hadis qudsi di atas ini.

Moga kesempatan yang ada ini, Allah terima Istighfar kita... amal-amalkan...


saiyidul istighfar


 

sama-sama kita amalkan..

Tuesday, March 1, 2011

Enam Golongan Yang Sukar Menerima Dakwah


Jum, 24 Dis 2010 15:05 | Editor: Rasailul Ashwaq
PDF
"...(Allah) yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun daripada (kandungan) ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki (memberitahu kepadanya)."
 - Surah Al Baqarah: Ayat 255

Banyak buku-buku yang menerangkan tentang metod berdakwah, ciri-ciri pendakwah, mendekati orang yang ingin didakwahkan dan sebagainya. Akan tetapi, penulisan mengenai siapakah orang paling sukar menerima dakwah adalah sangat kurang.
Contohnya, apabila ditanya kepada beberapa orang Islam, apakah isi khutbah jumaat (selepas solat jumaat), mereka tidak ingat malah ada yang tertidur. Ditanya pula apakah isi ceramah, tazkirah dan seumpamanya pada beberapa orang selepas tamat sesi tersebut, jawapan mereka lebih kurang sama. Perkara ini berlaku pada kebanyakan orang, anda boleh bertanya kepada diri sendiri dan boleh juga bertanya pada orang lain untuk melakukan uji kaji kendiri jika mampu bagi memastikan kebenarannya.

Mengenai orang bukan Islam pula, apabila ditanya mengenai agama Islam, mereka lebih mempercayai media cetak, media elektronik, "media angin" (khabar angin), memerhatikan tingkah laku orang Islam yang buruk dan menganggap semua agama adalah sama. Malah tidak kurang juga yang mengatakan Islam menggalakkan keganasan dan mencabuli hak kemanusiaan serta melanggar Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia. Contohnya seperti poligami, menutup aurat dan sebagainya.
"Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai." - Surah An-Nahl: Ayat 108

(Ayat ini ditujukan kepada orang kafir.Sila lihat empat ayat sebelumnya).
Sebenarnya mengetahui sukarnya segelintir golongan menerima dakwah adalah sangat penting kerana segala isi pengajaran yang didapati dalam sesi pembelajaran atau dakwah itu perlu diaplikasikan dalam diri. Dakwah perlu difahami, dipastikan kebenarannya, menerima kebenaran itu dengan jujur, dan kemudian barulah diyakini serta beramal dengannya.

Satu contoh yang mudah, jika seseorang itu berdakwah dengan mengatakan sembahlah Allah yang Maha Besar, maka perlu kita fahami makna "Maha Besar" itu; iaitu tidak ada yang lebih besar melainkan Allah. Kebenarannya, lihatlah isi di langit dan di bumi. Mampukah manusia sekecil kita mencipta bulan, matahari, tanah, lautan dan lain-lain? Kemudian terimalah kebenaran itu dengan jujur dan seikhlas hati dan mengucapkan tiada Tuhan selain Allah yang Maha Besar. 
Katakanlah: "Taat kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; dan jika kamu berpaling maka sesungguhnya kewajiban Rasul itu adalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajiban kamu sekalian adalah semata-mata apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, nescaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban Rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang."
- Surah An-Nuur: Ayat 54

Mereka yang Sukar Menerima Dakwah
Persoalannya, sejauh manakah dakwah para pendakwah benar-benar berkesan terhadap penerima dakwah? Sedikit kajian, pemerhatian dan penelitian dalam al-Quran, hadis dan sirah Nabi Muhammad SAW, didapati ada beberapa golongan yang sangat sukar menerima dakwah dan berdakwah kepadanya. Moga-moga kita terhindar daripada menjadi golongan seperti ini.

01.Mereka yang Menolak Kebenaran

"Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apapun." - Surah Al-Anfaal: Ayat 22

Maksudnya, manusia yang paling buruk di sisi Allah yang Maha Agung ialah yang tidak mahu mendengar dan memahami kebenaran. (Rujukan : Tafsir Ibn Katsir)
Zaman ini, setelah mendengar seruan Nabi Muhammad SAW, mereka mengingkarinya dan mengatakan itu adalah amalan orang-orang lama (konservatif) dan pemikiran yang beku (jumud). Mereka menolak hadis-hadis daripada Rasulullah SAW dengan pelbagai alasan, malah mengatakan hadis-hadis inilah punca perselisihan dan perpecahan umat Islam sekarang.

Orang-orang seperti ini sangat sukar menerima dakwah kerana mereka sendiri enggan mengakui akan kebenaran Al-Quran dan Nabi Muhammad SAW. Perkara ini bukan hanya terjadi pada orang kafir dan munafik sahaja, malah tergolong juga pada orang-orang yang mengaku Islam pada mulutnya, tetapi tidak beriktikad dalam hatinya.

Mereka tetap bersolat dan melaksanakan ibadah sebagai seorang Muslim, tetapi mereka menolak apa yang diperintahkan Allah yang Maha Agung melalui Rasul-Nya dan sebenarnya mereka tidak mengetahui mereka telah cenderung kepada kemunafikan dan kekufuran. Contohnya; Mereka mengatakan ada perkataan dan hukum yang lebih baik daripada Al-Quran, malah mencaci pula Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Daripada Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda: "Barang siapa taat kepadaku, bererti dia telah taat kepada Allah SWT; dan barangsiapa menderhakaiku, bererti dia derhaka kepada Allah SWT."
- Sahih Ibnu Majah: 0003

02.Mereka yang Taksub Mengikuti Tradisi

"Dan apabila dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati daripada (perbuatan) nenek moyang kami". "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?"
- Surah Al-Baqarah: Ayat 170

Maksudnya, mereka yang telah diseru supaya mengikut perintah dan larangan Allah yang Maha Agung, tetapi mereka ingkar dan beralasan tradisi nenek moyang tidak boleh ditinggalkan, iaitu penyembahan berhala dan membuat sekutu-sekutu bagi Allah yang Maha Agung. (Rujukan: Tafsir Ibn Katsir)

Zaman ini,  manusia tidak terlepas daripada mengikut tradisi nenek moyang mereka walaupun hal itu bertentangan dengan syariat. Amalan-amalan khurafat zaman dahulu seperti keris sakti pusaka, cincin geliga yang mampu menyembuhkan penyakit, gelang dan rantai yang dapat memberi kesihatan dan pelbagai lagi sekutu-sekutu yang diciptakan bagi menidakkan kekuasaan Allah yang Maha Agung.
Selain itu ada pula yang mengikuti tradisi kitab. Apabila berdakwah kepadanya mengenai sesuatu amalan atau ibadah yang bercanggah dengan syariat dan dikemukakan kebenaran dan faktanya, mereka mengatakan kitab itu hasil nenek moyang mereka dan mereka tetap mengikut kitab itu. Walhal kitab itu penuh penyelewengan seperti penuh hadis palsu, salah faham dalam penafsiran dan sebagainya. Orang-orang seperti ini sangat sukar berdakwah kepadanya kerana mereka begitu taksub dengan tradisi mereka.

Daripada Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa menyeru ke jalan petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, yang tidak terkurangi sedikit pun daripada pahala-pahala amal mereka sama sekali. Barangsiapa menyeru kepada jalan yang menyesatkan, maka baginya dosa semisal (sama) dosa orang-orang yang mengikutinya, yang tidak terkurangi sedikit pun daripada dosa-dosa mereka sama sekali."
- Sahih Ibnu Majah: 0172

03.Menyangka Majoriti adalah Kebenaran

Apa yang dimaksudkan adalah melihat ramai orang yang melakukan sesuatu kemungkaran dan kita menyangka bahawa perkara itu dibolehkan dalam syariat. Contohnya wanita yang memakai tudung yang jarang, wanita yang berbaju lengan pendek dan mempamerkan bentuk badan, wanita yang menyanyi di pentas (anugerah itu dan ini) dan pelbagai lagi yang bertentangan dengan syariat.
Walaupun contoh diatas pelakunya adalah wanita, tetapi di belakangnya terdapat kaum lelaki yang membiarkan malah menganjurkannya pula kerana mereka (lelaki) juga menyangka perkara itu dibolehkan. Ini termasuk para suami dan para bapa, sedangkan lelaki itu adalah pemimpin kepada wanita dan mereka akan ditanya tentang kepimpinan mereka.

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh kerana Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita)." 
- Surah An-Nisaa': Ayat 34

Apabila tiba hari pembalasan, orang yang dipimpin akan mula menyalahi para pemimpinnya kerana terlalu takut. 

Dan mereka berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar)."
 - Surah Al-Ahzab: Ayat 67

Apa yang penting adalah, kebenaran itu didasari dengan ilmu. Di manakah pula cara, atau sumber kepada ilmu bagi mendapatkan kebenaran? Jawapannya adalah al-Quran dan hadis termasuk juga ijtihad dan kesepakatan seluruh ulama. Selain itu, terdapat juga ijtihad perseorangan ulama yang muktabar (kepelbagaian pendapat). Kebenaran itu tidak semestinya mengikut majoriti, jika terdapat kesalahan dan kesilapan orang terdahulu kemudian setelah diketahui kebenarannya, hendaklah kita menerima dengan hati yang terbuka dan perbetuli kembali kesalahan dan kesilapan itu agar tidak membiarkan generasi akan datang terus menerus dalam kesilapan.

Daripada Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda, "Kalau amanah tidak lagi dipegang teguh, maka tunggulah saat kehancuran." Ia (Abu Hurairah) bertanya, Bagaimana orang (yang) tidak memegang teguh amanah itu ya Rasulullah?" Beliau (Nabi SAW) menjawab, "Kalau sesuatu urusan telah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saat kehancuran."  
- Sahih Bukhari: 1746

04.Mereka yang Berilmu Pengetahuan

"Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu." - Surah Al-Mukmin: Ayat 83
Di antara orang yang paling sukar didakwahkan juga adalah orang yang menyangka dia sudah mempunyai ilmu pengetahuan yang cukup. Sebarang pendapat yang berlainan dengannya akan ditentang habis-habisan walaupun bertentangan dengan hadis Nabi SAW. Mereka akan berhujah dengan kitab itu dan ini, kata-kata guru itu dan guru ini malah mereka lebih mengikut pendapat guru dan kitab mereka melebihi perkataan Rasulullah SAW sendiri.
Apa yang lebih melucukan adalah, mereka menggunakan dalil yang langsung tidak layak seperti surat khabar, radio dan sebagainya bagi menentang atau beralasan menolak hadis Rasulullah SAW.

05.Orang yang Mempunyai Pangkat, Harta dan Kuasa

"Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat daripada Kami, ia berkata: "Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah kerana kepintaranku." Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui."
- Surah Az-Zumar: Ayat 49

Umum kita mengetahui sepanjang sejarah dakwah para Rasul dan Nabi mempunyai banyak tentangan daripada orang yang mempunyai pangkat, harta dan kuasa (sila rujuk sirah para Nabi dan Rasul). Keadaan ini berterusan pula sehingga ke hari ini, tetapi perlu diingat bahawa pengulangan sejarah ini adalah sebagai satu pengajaran buat umat zaman akhir ini. Apakah yang telah terjadi kepada orang-orang yang menentang risalah Rasul mereka? Mereka menerima kebinasaan di dunia dan di akhirat.

Mereka menganggap segala nikmat yang diberikan oleh Allah yang Maha Agung adalah kerana hasil usaha mereka sendiri. Mereka lupa bahawa nikmat itu pasti akan ditanya kembali pada hari pembalasan mengenai apakah yang telah mereka perbuat terhadap nikmat itu. Mari kita perhatikan kata-kata Qarun:
Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, kerana ilmu yang ada padaku." Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka.
- Surah Al-Qashash: Ayat 78

Kedua-dua ayat diatas menyatakan akan kesombongan golongan yang kelima ini. Apabila didakwahkan kepada mereka agar mentaati perintah Allah yang Maha Agung dan Rasul-Nya, mereka sangat sombong; mereka berkata ada perkataan yang lebih baik dari itu pada zaman moden ini. Tujuan mereka tidak lain hanyalah untuk menambah kekayaan mereka sahaja dan takut rugi dari segi kehilangan pengaruh dan kuasa.

Daripada Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW bersabda, "Setiap umatku masuk ke dalam syurga, selain orang yang enggan." Mereka bertanya, "Ya, Rasulullah, Siapakah yang enggan (masuk syurga) itu?" Jawab Nabi saw, "Siapa yang mematuhi perintahku, masuk syurga dan siapa yang melanggar perintah ku, maka sesungguhnya orang itu enggan (masuk syurga)." 
- Sahih Bukhari: 1952

06.Sangka Buruk

"Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, kerana sebahagian daripada prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjing (memfitnah, mengumpat atau mengata) satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." - Surah Al-Hujuraat: Ayat 12

Mereka ini sentiasa bersangka buruk pada orang lain, terutamanya kepada orang-orang yang mempunyai kelebihan daripada mereka. Mereka mencari-cari kesalahan orang lain tanpa melihat diri sendiri. Mereka juga menganggap mudah mengenai hal-hal ilmu agama dan melihat orang lain lebih rendah dari mereka.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik daripada mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. 
- Surah Al-Hujuraat: Ayat 11

Mencela diri sendiri juga bermaksud mencela para mukmin yang lain. Orang seperti ini sukar didakwahkan kerana mereka menganggap orang lain semua sama seperti mereka termasuk juga para ilmuwan dan pendakwah. Padahal dalam al-Quran jelas mengatakan orang yang berilmu tidak sama dengan orang yang jahil.
"... Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran."
 - Surah Az-Zumar: Ayat 9

Daripada Aisyah r.a., Rasulullah SAW bersabda, "Orang yang sangat dibenci Allah ialah orang yang suka bermusuh-musuhan."
- Sahih Bukhari: 1915

Kesimpulan
Setelah kita mengenali enam golongan di atas, dapatlah kita memperbaiki diri agar lebih mudah menerima pendapat orang lain dan bertolak ansur sesama saudara se-Islam. Mungkin juga kita tergolong dalam salah satu golongan di atas, tetapi kita tidak menyedarinya selama ini.
Kepada para pendakwah, strategi yang betul diperlukan bagi menarik minat orang ingin didakwahkan agar dakwah itu benar-benar memberi pemahaman kepada penerimanya. Selain itu, isu-isu yang diutarakan juga perlulah lebih segar, iaitu isu-isu yang berkaitan dengan kehidupan semasa supaya contoh-contoh yang diberikan nampak lebih jelas dan mudah untuk mereka memahaminya.
Hanya kepada Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayanglah kita memohon perlindungan agar terhindar daripada menjadi enam golongan di atas. Kesabaran dalam berdakwah amat diperlukan, janganlah sesekali berputus asa kerana putus asa hanyalah sikap orang kafir.
"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah berserta orang-orang yang sabar."
 - Surah Al-Baqarah: Ayat 153

Daripada Mu'awiyah r.a., Rasulullah SAW bersabda: "Sentiasa ada segolongan umatku yang selalu berjuang menegakkan agama Allah Ta'ala. Mereka tidak akan celaka oleh orang-orang yang menghina atau menentang mereka sampai hari kiamat. Bahkan mereka tetap menang atas semua manusia."
- Sahih Muslim: 1873

Monday, November 29, 2010

Pertengahan dalam Agama





بسم الله الرحمن الرحيم

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin


          Pertanyaan: Apakah yang dimaksud dengan wasath (pertengahan) dalam agama? Kami mengharapkan penjelasan tentang hal itu dengan pemaparan yang jelas dan semoga Allah I membalas kebaikanmu kepada Islam dan kaum muslimin sebaik-baik balasan.
          Jawaban: Wasath dalam agama adalah bahwa seseorang tidak bersikap ghuluw (berlebihan) padanya maka ia melewati apa yang dibatasi oleh Allah I, dan ia tidak pula muqashshsir (kurang) maka ia mengurangi dari sesuatu yang telah dibatasi oleh Allah I.
          Wasath dalam agama adalah berpegang teguh dengan sirah Nabi e. Ghuluw dalam agama adalah melewatinya dan taqshir (kurang) adalah tidak sampai kepadanya. Contohnya: seseorang berkata: Saya bangun sepanjang malam (ibadah) dan tidak tidur sepanjang tahun, karena shalat adalah ibadah yang paling utama, maka saya ingin menghidupkan semuanya dengan shalat. Kami katakan: ini ghuluw dalam agama Allah I dan tidak berada di atas kebenaran dan kasus seperti ini pernah terjadi di zaman Nabi e. Berkumpul beberapa orang, salah seorang dari mereka berkata: 'Saya selalu bangun dan tidak tidur.' Yang lain berkata: 'Saya selalu puasa dan tidak berbuka (di siang hari)'. Yang ketiga berkata: 'Saya tidak menikahi wanita.' Maka hal itu sampai kepada Nabi e. Lalu beliau bersabda:
قال رسول الله e : ((مَابَالُ أَقْوَامٍ قَالُوْا كَذَا وَكَذَا؟ لَكِنِّي أُصَلِّى وَأَنَامُ ,وَأَصُوْمُ وَأُفْطِرُ, وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ, فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي))
Rasulullah e bersabda: "Bagaimanakah keadaan kaum yang mengatakan seperti ini dan seperti itu? Akan tetapi aku shalat dan tidur, puasa dan berbuka, dan menikahi wanita. Maka barangsiapa yang membenci sunnahku maka ia bukan dari golonganku."[1]  
Mereka telah bertindak ghuluw dalam agama dan Rasulullah e berlepas diri dari mereka, karena mereka membenci sunnahnya e, yaitu puasa dan berbuka, bangun dan tidur, serta menikah dengan wanita.
          Adapun muqashshir, yaitu orang yang berkata: Saya tidak perlu melakukan ibadah sunnah, saya tidak melakukan ibadah sunnah dan saya hanya melakukan yang wajib saja. Terkadang ia kurang dalam ibadah wajib, maka ini adalah muqashshir. Dan mu'tadil (orang yang pertengahan) yaitu yang berjalan di atas sunnah Nabi e dan para khulafaurrasyidin.
          Contoh yang lain: Ada tiga orang laki-laki yang berjalan di hadapan mereka orang yang fasik. Salah seorang dari mereka berkata: Saya tidak memberi salam kepada orang fasik ini, tidak menyapanya, menjauhkan diri darinya dan tidak berbicara kepadanya.
          Yang kedua berkata: Saya akan berjalan bersama orang fasik ini, memberi salam kepadanya, senyum kepadanya, mengundangnya, memenuhi undangannya, dan saya tetap memperlakukannya seperti seorang yang shalih.
          Dan yang ketiga berkata: Ini orang fasik, saya membencinya karena fasiknya dan mencintainya karena imannya, tetap menyapanya kecuali bila tidak menyapanya bisa menjadi sebab kebaikan dia. Jika hajar (tidak menyapa)nya tidak bisa memperbaikinya, bahkan menjadi penyebab bertambah kefasikannya, maka saya tetap menyapanya. Maka kami katakan: yang pertama ghuluw (melewati batas), yang kedua kurang, dan yang ketiga adalah pertengahan.
          Dan seperti inilah kami katakan di dalam semua ibadah dan pergaulan sesama makhluk, manusia padanya di antara muqashshir (kurang), ghuluw (berlebihan), dan mutawassith (pertengahan).
          Contoh ketiga: Seorang lelaki menjadi tawanan istrinya, istrinya mengaturnya di mana dia menghendaki, dia (suami) tidak menghalanginya dari perbuatan dosa dan tidak mendorongnya melakukan pahala, dia (istri) telah menguasai akalnya, dan jadilah dia (istri) yang mengaturnya.
          Lelaki yang lain memiliki sifat sombong dan tinggi di atas istrinya, tidak perduli kepadanya, dan seolah-olah istrinya lebih rendah dari pada pembantu.
          Lelaki yang ketiga adalah yang pertengahan, dia mempergauli istrinya seperti yang diperintahkan Allah I dan Rasul-Nya:

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. (QS. al-Baqarah:228)
قال رسول الله e : ((لاَيَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ))
Rasulullah e bersabda: 'Janganlah laki-laki beriman membenci wanita beriman (istrinya), jika ia membenci perilaku darinya, ia suka darinya yang lain."[2]
Lelaki yang terakhir inilah yang pertengahan. Yang pertama ghuluw (berlebihan) dalam perlakukan istrinya kepadanya dan yang kedua muqashshir, dan analogikannya semua amal ibadah lainnya.
Syaikh Muhammad al-Utsaimin – al-Majmu' ast-Tsamin 1/39.





[1]  Al-Bukhari 5063 dan Muslim 1401.
[2]  HR. Muslim 1469.